Saturday, March 23, 2013

Pin It

Widgets

Surban Batik Ajaib



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- (09122012)
Surban Batik Ajaib

Bocah beringus lugu yang membuka pintu bilik sederhananya. Dalam biasan temaram lampu malam wajahnya terlihat imut nan lucu. Mata sipit, alis tebal dengan rambut berikal. Subhanallah! Ingin sekali kugigit pipi tembamnya. Hingga saking gemasnya, aku pencet hidung bangirnya.
"Abah… bah… abaaaah" suara yang seperti kletukan jambu biji itu berteriak berkali-kali, kemudian lari terbirit-birit seperti habis berjumpa dengan hantu jembatan merah. Hahaha, hatiku riang tergelitik geli.
Tak lama kemudian, muncul lelaki yang sudah tak asing lagi bagiku. Dia adalah dia. Masih seperti dia yang dulu. Bertubuh kecil, dekil dengan jenggot khas berduri kecil-kecil mirip brewok si Brutus musuh bebuyutan Popeye, serial kartun yang sering kutonton saat liburan sekolah. Hanya saja bedanya dia agak jangkung nan kurusan.
"Ya Allah, Arul?!"
Pastinya dia sama sekali tak menyangka atas kedatanganku yang seketika. Campur aduk. Antara terkejut dan terharu tentunya. Rinai air mata merintik terurai. Dia memelukku begitu erat. Ketika kemudian dengan segala kesopanannya dia mempersilahkanku memasuki gubuk reotnya. Tanpa basa-basi, aku langsung memilih duduk santai di atas tikar bambu yang telah lapuk dimakan usia.
Dari balik tirai jendela, sejenak kubebaskan bola mata meresapi hamparan panorama desa pada malam hari.
Hust…
Masya Allah, betapa sentosanya!
Semilir angin sepoi mengelokkan tarian ilalang persawahan. Debu jalanan tak lagi berlalu lalang kesana-kemari. Ringkikan jangkrik merinai merdu, berduhai mesra bersama kidung rembulan, menemani semburat pernik bintang Tsuraya.
"Disinilah aku sekarang, di bawah senthir terang dalam ruang sederhana. Berbeda sekali dengan dirimu," katanya berjalan gontai menghampiriku sembari membawa secawan teh hangat. Dia pun lalu duduk berseberangan denganku.
"Tidak penting kita berada dimana atau bersama siapa, Sobat!" tukasku singkat, "namun yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita memosisikan diri kita sebagai murid kehidupan," lanjutku sembari menyeruput secangkir the hangat yang telah dia tuangkan.
Memed. Begitulah akrab kusapa. Dialah sahabat seperjuanganku kala menimba ilmu di negeri Ratu Balqis, Yaman. Setahun lamanya kami berpisah, dia terburu pulang selang beberapa hari pengumuman kelulusan, sebab dia tonggak keluarga satu-satunya yang tersisa.
"Ternyata mimpiku menjadi realita. Sekarang Engkau penulis hebat! Namamu tersohor diantara jajaran sastrawan Nusantara. Yah, Kau memang hebat! Padahal…" tiba-tiba saja dia berhenti meninggalkan sejumput pertanyaan. Pandangannya justeru berpaling ke luar jendela, pada pohon-pohon Mangga yang berbaris lurus bagai deretan pasukan perang.
Mimik mukanya yang dingin pula hambar, layaknya sayur tanpa garam itu semakin membuat rasa penasaranku mengerang-erang.
"Padahal dirimu dulu hanyalah penjual krupuk dan sambal, hahaha…" tawanya lepas serasa tanpa beban. Aku tersenyum, lalu menimpal ringan.
"Aku bisa karena aku berpikir aku bisa!"
"Tanpa aku?!" respon singkat dengan lirikan sinis.
"Haha…" lagi-lagi diriku terbahak dibuatnya. Kuhirup aroma wangi teh khas pedesaan untuk menetralisir sebentar, sebelum akhirnya kukatakan.
"Yang namanya mimpi, jika hanya kita impikan sendiri, maka hanya akan sebatas bualan belaka. Berbeda halnya jika kita impikan bersama, baru akan menjadi kenyataan."
Di sela perbincangan kami, sekonyong-konyong si kecil mengintip dari balik selambu. Spontan kulambaikan tangan kepadanya. Memed pun mengikuti arah lambaianku. Secepat kilat, si kecil menghilang dari pandangan. Hahaha, barang kali saking seramnya diriku.
"Hey, kok malah cengar-cengir sendiri?" ketus Memed saat melihat keanehan gelagatku yang tersenyum-senyum sendiri.
"Jadi ingat masa lalu," mataku berkaca mengurai kenang, "ketika Kamu raib atau sibuk berdengkur, aku justeru mencuri kesempatan untuk bisa memakai laptop Toshiba-mu demi mengejar deadline lomba."
"Lantas kuhukum dirimu dengan tumpukan pakaian kotor, sampai-sampai Kamu terkelepek dibuatku," sahut Memed dengan santainya.
Hahaha…
Kata-kata obrolan dan gojlokan meluncur deras seperti peluru-peluru yang berebut keluar dari magasin.
Berjumpa dengan Memed, mau tidak mau mengingatkan kepada pengalaman kami dahulu selama masa perantauan. Pengalaman yang menjadikan dia, meski terpisah ribuan daratan nan lautan, senantiasa lekat di ingatanku.
Senja itu, kala mentari kan menyingsir di ufuk Barat, sinar jingga tak lagi mewarnai coretan kanvas cakrawala. Betapa durjananya mendung hitam! Lebih-lebih rantai sepeda ontelku tambah karatan. Huft, keluhku masa itu.
"Ayo, keburu turun hujan! Entar terlambat datang lagi ke majlis," celotehnya setelah melihatku santai melumasi rantai sepeda.
Sambil tetap menggerutu tidak senang, selepas mencuci tangan, kami lalu berangkat, mengayuh pedal menuju salah satu pesantren di kota Tarim. Namun, hanya beberapa puluh meter dari perkebunan kurma, gerimis turun merintik.
Tik… tik… tik….
Benar juga dugaannya. Hujan nian mengguyur deras. Di kejahuan, terlihat teras kecil. Rasa hati agak sedikit tenang. Namun entah mengapa, ketika semakin kupercepat kayuh pedal, laju sepeda malah terasa lamban.
“Sial!” umpatku menggerutu. Rantai ontel tua ini terputus. Memed berputar balik setelah sebelumnya mendahuluiku.
Telapaknya menggandeng erat tanganku, “ayo!”. Kali ini sepeda ontel hitamnya serupa katrol mobil. Tak lama kemudian kami berteduh di bawah teras kecil.
“Nih,” katanya menyelimutiku dengan surban batik, “bajumu basah kuyup”.
“Lalu Kamu?” tukasku.
Dia tersenyum.
Satu jam berlalu, hujan pun berkunjung reda. Badanku serasa panas dingin. Demam kah?! Mungkin. Gurat pucat pasi mengutarakan bahasa tubuh.
“Kamu sakit?!”
Punggung telapaknya menyentuh kening hangatku. Sekilas, dia mengunci sepedaku. Ya, hanya sebentar. Lalu…
“Naik!”
Diboncengnya diriku kembali menuju asrama kampus.
Malam itu listrik padam, sedangkan aku terbaring lemas, memperhatikannya membaca Al-Qur’an. Lilin yang menjadi penerangan utama diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya, semisal dia agak merundukkan kepala.
“Nun, wal qalami wa ma yasthurun.” Lantunnya merdu.
Sesekali hawa dingin menusuk rapuh rongga tulang. Serta merta, bibirku menggigil sendirinya, “ggghhh…”
Memed mendengarnya. Dia bangkit, lantas mengambil sesuatu. Spotan aku terheran! Terbayang pada kerut merut dahiku sebuah tanda Tanya besar. Surban batik lagi?! Bukannya tadi sudah basah kuyup?! Decak batinku.
“Santai gitu kenapa sih?!” jawabnya melihat guratan aneh wajahku, “ini surban lainnya, kok! Hanya warnanya sama.”
Subhanallah! Dulu Kamu baik, yah!” kataku seusai mengingat deretan kenangan itu.
“Emang sekarang berubah, gitu?” ketusnya cemberut, “lagian juga mukamu dulu kayak orang sekarat. Melas banget. Makanya kusempat-sempatin nolong.” Lanjutnya menggojlok.
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan seantero peristiwa di negeri perantauan tersebut akhirnya menjadi album kehidupan abadi. Sahabat, kawan dan teman merupakan keluarga besar kami saat itu. Aku sering mengumpamakannya seperti ikatan kovelen, bersumber dari pemakaian bersama, bereaksi tarik-menarik dalam menangkap elektron, yaitu cita dan impian, sehingga menciptakan sebuah gaya. Yah, gaya dalam artian suatu “kemampuan”.
“Sekarang dimana surban batikmu?” sambungku singkat.
Memed tak menjawab. Diam seribu bahasa. Tak selang kemudian, dia mengajakku ke halaman samping gubuk bambunya. Tak jauh dari pandangan mataku, nampak sebuah pesarean bersinarkan teplok kecil.
“Disanalah surban itu berada. Bersama abah tercinta, untuk dibawa menuju surga.” Ucapnya tersenyum. Ada siratan kesungguhan dari suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, alur pikiran sibuk membayangkan betapa bersahajanya si Memed, sahabat karibku tersebut. Betapa malunya diriku! Aku merasa tak ada hal istimewa yang kupersembahkan untuknya selama ini. Tak yakin juga aku bias membalas budinya pada malam itu. Dia berhasil membuktikan bahwa jiwa fastabiqul khairat; bersaing dalam kebaikan dapat bermuara dari tulusnya sebuah persahabatan.
Kupandangi surban putih yang terbungkus rapi dalam ransel biruku. Baru kemarin aku memakainya saat talk show karya perdanaku di Gramedia Jakarta. Tentunya nilainya tak sepadan dengan kenangan surban batiknya. Tapi dia tidak tahu, bahkan tidak akan tahu, bahwa dengan surban putih itu, keluh nestapanya akan berubah senyuman esok hari.
Namun, selang beberapa bulan setelah pertemuan itu, kudengar berita dukacita. Dia telah dipanggilnya, karena tersangka teroris densus 88 menembaknya saat dia hendak pergi ke masjid. Entah apa salahnya, yang jelas aku pun tak tahu.
Serta-merta kupandang lekat surban putih. Dan ajaib, mendadak hidungku bagai mencium aroma memabukkan, harum mewangi. Akankah itu harum surgawi? Wallahu a’lam.

02.04 KSA
Siang Musim Dingin Hadhramaut-Yaman



** Dibedah oleh Bilik Sastra, Radio Republik Indonesia (RRI-VOI), 13 Januari 2013.

1 comments:

  1. Ηi Dear, aгe you genuinely visiting this site on a regular baѕis, if so after that you will
    absolutely take good knowledge.

    My blog posst ... cгedit report repair ()

    ReplyDelete